Bisnis Online I Affiliasi I Tutorial Blog I Tips & Trick I Motivation I SEO

Ku Nanti Kau Dalam Doa

Disudut kamar ini, kupandangi lagi sebuah foto yang telah usang. Foto perpisahan kakak kelasku sewaktu ku masih kelas 1. Foto yang selalu mengingatkanku dengan seseorang yang sangat berarti. Masih teringat jelas dalam ingatanku saat pertama ku berjumpa dengannya. Aku dan dia tak pernah berkenalan, tak pernah bicara ataupun bertegur sapa. Memang terdengar sangat aneh, tapi itulah yang terjadi..

Semua bermula ketika aku sedang berada di Tata Usaha sekolah untuk membayar spp. Saat itu aku masih kelas 1di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Pertemuan kami terjadi saat aku berada di depan ruang TU. Tanpa sengaja mataku tertuju pada seorang laki-laki yang berpenampilan begitu rapi. Ya...sangat rapi.

Saat itu dia sedang bersama dengan temannya. Aku yang saat itu memang belum pernah bertemu dengannya, mencoba bertanya tentang laki-laki itu kepada temanku.

"rin, kamu tau nggak laki-laki itu siapa? kenapa selama ini ku nggak pernah lihat dia?"
"kurang tau, aku juga baru lihat. Mungkin dia dari sekolah lain dan kesini karena ada kepentingan".
"mungkin juga ya", kataku.

Aku masih terus memperhatikannya. Sampai pada akhirnya laki-laki itu memperhatikanku. Dia memandangku sambil tersenyum. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Aku pun mencoba mengalihkan pandanganku darinya.

Setelah pertemuan itu, aku mulai sering melihatnya. Entah  karena di sengaja atau tidak, dia mulai sering terlihat di depan kelasku saat jam istirahat. Dia juga mulai mengajar extra kurikuler. Padahal sebelumnya tidak pernah.

Aku pun mulai mencari tahu tentang dia kepada salah seorang temanku yang kebetulan satu desa dengannya. Ternyata laki-laki itu bernama faisal. Murid kelas 3A sekaligus mantan wakil ketua osis. Entah kenapa sejak pertama berjumpa dengannya aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Dan makin lama aku dibuat bingung dengan perasaanku.

Perasaan ini terus aku simpan tanpa ada orang lain yang tahu. Cukup dengan memandangnya saja aku sudah merasa bahagia. Bagiku mata itu sudah mengisyaratkan tentang dirinya . Dari tatapan matanya, ku sudah merasa ada perhatian tulus yang ia perlihatkan padaku meski tanpa kata, meski tanpa bicara.

Hari -hari berlalu terasa begitu menyenangkan karenanya meskipun aku tak berada di sisinya dan tak bisa menyapanya. Tapi ku tahu dia selalu memperhatikanku. Cukuplah lantunan do'a yang ku panjatkan kepada sang Khaliq sebagai perantara antara diriku dengannya.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Acara pelepasan siswa kelas 3 akan segera berlangsung. Di acara itulah aku dan dia lebih sering berpandangan walau dari jauh. Tapi ku lihat mata itu , mata yang terlihat sendu. Ingin rasanya ku menyapanya dan menjabat tangannya sekedar untuk melepas perpisahan tapi itu tak mungkin karena dia bukan muhrimku. Acara pelepasan siswa yang sangat meriah itu menjadi terasa begitu menyedihkan bagiku,_bagi hatiku.

Acara pelepasan siswa kelas 3 pun usai. Yuli salah seorang temanku tiba-tiba menggandengku dan mengajakkku untuk menemaninya bertemu dengan seseorang . Dia bilang kepadaku kalau dia ingin mengucapkan kata perpisahan dengan seseorang yang spesial. Aku yang saat itu sedang bersedih, enggan untuk menerima ajakannya. Aku pun balik bertanya , "siapa sih orang itu?"

"faisal".
"astagfirullah".
(hanya itulah kata-kata yang mampu terucap dalam hatiku. Seperih apapun rasa hatiku, aku tak boleh memperlihatkan rasa itu.)

Selang beberapa hari setelah acara itu, tiba-tiba yuli menghampiriku.

"fan maafin aku ya?"
"maaf untuk apa?'
"maaf untuk ucapanku waktu itu. aku sudah tahu hubungan kamu dengan faisal. maafin aku ya karena sudah nyakitin hati kamu."
"nggak apa-apa, tapi aku sama faisal kan nggak ada hubungan apa-apa. kami juga nggak pacaran. Emang kamu tahu darimana?"
"aku tahu dari faisal. Kemarin ku menemuinya dan dia cerita tentang kamu. Sikap aneh di antara kalian yang nggak pernah saling bicara. Selama ini aku salah paham. Ternyata dia sukanya sama kamu."
"dia bilang begitu?" kataku sedikit terkejut bercampur bahagia.
"iya, ku do'akan semoga kalian bisa bersama."
"amin. makasih do'anya yul."

Tahun berganti tahun, tak terasa sudah hampir 8 tahun ku tak berjumpa dengannya. Banyak hal yang sudah berubah. Kini ku sudah lulus kuliah dan mengajar di salah satu sekolah swasta di daerahku. Di usiaku yang sudah beranjak dewasa, orang tuaku selalu memintaku untuk segera menikah. Langsung saja ku jawab, "belum ada yang cocok bu. ibu do'akan saja supaya fani cepat menikah."

Meski sudah sangat lama, ku masih saja mengingat tentang faisal, cinta pertamaku. Walau tampak tak mungkin, ku berharap ku bisa bertemu dengannya dan bersamanya. Hanya lantunan do'a yang selalu ku panjatkan kepada sang Khaliq agar segera mempersatukanku dengan jodohku.

Siang itu tiba-tiba salah seorang sahabatku datang ke rumahku.

"assalamu 'alaikum".
"wa'alaikum salam"
"hi, fan gimana kabarnya?"
"subhanallah yuli. aku nggak nyangka kamu datang. kabarku baik, kamu gimana? Duduk yul, ku buatkan minum dulu."
"alhamdulillah baik fan. makasih banget dah mau repot-repot buatkan minuman."

Aku pun datang dengan membawa segelas minuman untuknya. Kami bercerita banyak hal tentang sekolah dan kehidupan kami. Tiba-tiba yuli bertanya padaku, "fan, kamu dah nikah?"

"alhamdulillah belum. kamu sendiri dah nikah?"
"sudah. aku sudah nikah 3 tahun yang lalu. ada seorang pria yang meminangku. karena suka, aku langsung menerimanya. anakku sekarang sudah 2 tahun."
"duuuh... senengnya. sudah lengkap aja hidup kamu. kenapa baby-nya nggak kamu ajak?"
"nggak fan. ku titipkan sama ibuku. kalau diajak nanti ngobrolnya nggak bisa santai, amanahnya malah nggak nyampai."
"maksudnya?" kataku menyergap.
"kamu belum ada calon suami kan?"
"alhamdulillah belum ada."
"itulah maksud kedatanganku kemari. aku kemari untuk menyampaikan amanah dari seseorang. ada seorang laki-laki yang hendak meminangmu. ku dipercaya untuk menyampaikan ini. gimana menurut kamu?"
"insyaallah. kalau memang Allah mengizinkan, aku bersedia. Tapi sebelumnya ku ingin tau bagaimana orangnya, bagaimana sikapnya sebelum ku mengiyakan."
"oke. nanti kalian ta'aruf terlebih dahulu. kalau cocok, kalian bisa langsung nikah. besok siang ke rumahku, nanti aku temenin ketemu sama dia biar nggak ada fitnah."
"insyaallah aku datang yul."
"ya sudah. kalau gitu aku pulang dulu. sampai jumpa besok. assalamu 'alaikum."
"wa'alaikum salam."

Entah kenapa malam ini terasa begitu lambat. Ku pun bangun dan segera mengambil air wudhu. Aku ingin menghadap-Nya dan menyampaikan kegelisahanku. "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Lancarkanlah segala urusanku esok hari. Jikalau dia memang jodohku, yakinkanlah hatiku untuk menerimanya. Tapi jika dia bukan jodohku, tunjukkan pula jalan-Mu. amin."

Siang itu aku segera pergi ke rumah yuli. Jarak rumahku dengan rumahnya sekitar setengah jam perjalanan. Itupun dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama, sampailah aku ke rumah sahabatku itu.

"assalamu 'alaikum."
"wa'alaikum salam." terdengar jawaban dari dalam rumah.
"hi, fan. duduk dulu aja. sebentar aku ambilin minum."
(yuli pun datang dengan membawa minuman untukku)
"tenang aja bentar lagi dia datang kok. tadi dia telepon kalau lagi dalam perjalanan."
(Baru saja yuli selesai bicara, tiba-tiba terdengar ucapan salam dari luar)
"assalamu 'alaikum."
(entah kenapa tiba-tiba jantungku berdetak dengan kencang setelah mendengar suara salam itu. sepertinya ku pernah mendengar suara itu sebelumnya)
"wa'alaikum salam."
(laki-laki itu pun masuk ke dalam rumah)

Aku pun terkejut saat menatap wajah itu. "Allahu Akbar", ucapku pelan. Ternyata laki-laki itu adalah faisal. Lelaki yang selama ini mengisi hatiku. Yuli pun langsung bicara untuk mencairkan suasana, "fan masih ingat dia, kan?"

"alhamdulillah masih."
"kalau begitu aku tinggal sebentar. kalian ngobrol dulu aja."
(Yuli pun pergi meninggalkan kami berdua. Ku hanya bisa tertunduk malu)
"gimana kabar kamu fan?"
"alhamdulillah baik."
"nggak terasa ya sudah 8 tahun nggak ketemu. Ku senang bisa ketemu kamu."
(ku hanya tersenyum menanggapinya)
"ku kira yuli sudah cerita tentang niatku kepadamu. Aku nggak minta kamu untuk langsung menjawabnya. Ku bersedia untuk nunggu. Tapi jika hari ini kamu sudan punya jawabannya, aku siap mendengarkan apapun itu."

Ku mencoba menghela nafas panjang, mencoba mengatasi kegugupanku, "insyaallah ku bersedia."

"alhamdulillah."
(Wajah yang dahulu terlihat sendu, kini nampak bahagia setelah mendengar jawabanku)

Setelah pertemuan itu, keesokan harinya faisal datang ke rumahku untuk meminta izin kepada orang tuaku. Alhamdulillah orang tuaku merestui. Kami pun memutuskan untuk segera menikah. Sebulan kemudian faisal pun datang ke rumahku untuk melamarku. Di hari itu juga ijab qabul diucapkan. Kami pun resmi menjadi sepasang suami istri. Sungguh bahagia hatiku. Penantianku selama ini terjawab sudah.

Terima kasih ya Allah. Ternyata pacaran itu tak harus sebelum menikah. Pacaran setelah menikah itu justru lebih indah. Ku mencintainya karena-Mu ya Allah.

Note:
Cerita diatas merupakan cerpen kiriman dari sahabatku Wiwin W. Terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu untuk menulis dan mengirimkan ceritanya. Blog ini akan selalu terbuka untuk tulisan-tulisanmu yang bermanfaat dan cerita yang penuh inspirasi.
SHARE :

Cara Unik Masak Mie Instan

HEBOH..!!! - Kata itulah yang mungkin akan sahabat katakan tatkala melihat VIDEO UNIK masak mie instan berikut https://youtu.be/1MEs9a-973U.
6 Komentar untuk "Ku Nanti Kau Dalam Doa"

Seindah-indahnya orang berpacaran adalah setelah menikah. Segala sesuatu yang dilakukan bernilai ibadah.

Alhamdulillah,,, tersentuh banget dan baguuus banget sama cerpen diatas,,, Ikutan Deg deg seeer dan bahagia,,, :)

Cerita yang menginspirasi pikiran saya
Jadi bening nih

ak aja nyesel nikah, nyesel nunda2. klo dari dulu tau enak, ak bakalan nikah pas lulus SD

hoho.. ku pikir ceritay beneran... tapi top deh

1. Silakan buka Daftar Isi untuk melihat artikel menarik lainnya
2. Komentar sobat adalah investasi besar untuk meningkatkan jumlah pengunjung ke Blog Sobat

Back To Top